Refleksi

Kepada Sang Motivator; Terima Kasih
“Kepulangan Pak Slamet (ke Indonesia), seperti kehilangan tulang rusuk”

TADI malam saya ikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh PCI-NU Mesir (27/10/08). Acara itu dilaksanakan khusus untuk melepas kepulangan Bapak Slamet Sholeh, M.Ed. ke Indonesia karena masa jabatan beliau sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Cairo sudah berakhir. 

Ada rasa haru yang menyelinap di bilik-bilik batin saya, saat Pak Slamet –demikian saya biasa menyapa— menguatarakan kalimatul wada’nya di depan mahasiswa Indonesia yang hadir malam itu. Ada rasa bangga yang diam-diam bertutur kepada hati kecil saya, “Falah, kamu beruntung bisa mengenal Pak Slamet”. Sebab dengan mengenalnya, bisa menambah kekuatan saya dalam melakukan aktifitas kemahasiswaan. Paling nggak itu hikmah yang bisa dipetik dari perkenalan saya dengan beliau. 

Menjadi Pimpinan Redaksi Suara PPMI 2006-2007, barangkali momentum penting dimana saya bisa kenal untuk pertama kalinya dengan Pak Slamet. Sebab lazimnya media-media lain di lingkungan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), terutama media yang beroplah besar dan distribusinya lebih luas, setiap kali buletin dilansirkan, sudah barang tentu akan menyampaikannya ke setiap bagian dan staf yang berada di lingkungan KBRI Cairo, tak terkecuali kepada Pak Slamet sebagai Atdikbud. 

Hampir setiap bulan selama kurang lebih satu tahun itu saya selalu berkunjung ke KBRI, di bilangan Tahrir yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sungai Nil, untuk meloper buletin Suara PPMI. Maka, perjumpaan saya dengan beliau pun cukup intens. Apalagi karena keterbukaan beliau, terkadang kalau ada suatu hal mendesak pun, saya tidak segan-segan menghubunginya via seluler.

Lambat laun perkenalan saya dengan beliau pun makin dekat, terlebih setelah saya ikut nimbrung di buletin Arus Kampus bersama sahabat-sahabat lain. “Banyaklah menulis, saya sendiri meskipun banyak pekerjaan kantor, selalu menyempatkan diri untuk menulis,” pesan beliau kepada saya dalam suatu pertemuan bersama seorang sahabat AK di ruang kerjanya di KBRI. 

Sepulangnya dari kantor beliau, saya tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ternyata pertemuan itu cukup memompa semangat saya dalam beraktivitas, menulis, dan belajar. Apalagi setelah beliau memberikan buku “Cairo-Cairo” di akhir Juni lalu, dalam beberapa jam saja buku mungil itu saya baca dan pengaruhnya luar biasa; rupanya perjumpaan saya dengan Pak Slamet sungguh menjadi motivasi dalam segala hal, terutama dalam tulis-menulis yang juga menjadi bagian dari hobi saya.

Kesan lain yang saya temukan selepas pertemuan itu adalah semangat spiritual beliau yang bagi saya di luar dugaan. Kenapa saya bilang di luar dugaan, sebab saya tidak menyangka meskipun latar belakang pendidikan beliau bukan pesantren, tapi jebolan Amerika yang notabene berlatar sistem pendidikan liberal, justru saya menangkap sosok seorang Kiai dalam diri Pak Slamet, ini tampak ketika beliau bercerita tentang pengalaman spiritualnya selama menjalankan ibadah haji atau ketika bercerita tentang pengalamannya yang kerap disisipkan nilai-nilai keislamana dari berbagai kisah para sahabat Rasul. Sungguh mengagumkan.

Kekaguman saya itu rupanya semakin menjadi setelah saya baca buku “Cairo-Cairo” yang diberikannya. Dengan bahasa yang lincah, mengalir, lugas, jelas, dan padat isi, buku yang berisi refleksi itu bagi saya mengandung daya magis yang cukup dahsyat. Beliau bercerita tentang banyak hal yang sederhana, tapi mengandung makna dan nilai yang luar biasa. Lebih menarik lagi ketika persoalan yang ditemukannya itu selalu dibumbui dengan nilai-nilai keislamana. Contohnya, dalam “Perjalanan Panjang” ketika Pak Slamet beserta keluarga melakukan rekreasi ke berbagai tempat di sebelah Barat dan Timur kota Mesir; saat tibanya di Wadi Siwa, beliau sempat berfikir tentang bagaimana awalnya Islam masuk dan tersebar di wilayah ini. 

Keberhasilannya melakukan tafakkur rupanya tidak hanya soal bagaimana gurun yang gersang itu bisa menyemburkan mataair yang tiada hentinya mengalir, tapi lebih dari itu beliau cerdas mengkorelasikan rahasia alam tersebut dengan Islam dan kisah-kisah teladan para sahabat Nabi (Slamet: 65). Sehingga tidak salah kiranya, bila saya kemukakan bahwa Pak Slamet adalah seorang diplomat yang cerdas sosial, emosional, dan spiritual sekaligus. Beliau tidak terjebak dalam formalitas sang pejabat yang terlalu birokratis; beliau selalu tampil apa-adanya dan terbuka. 

Dalam ranah sosial, umpamanya, atau kepeduliannya dengan lingkungan sekitar terutama kepada mahasiswa/i beliau sangat perhatian. Saya melihat sikap peka terhadap persoalan kemahasiswaan yang ditunjukkannya, bukan tuntutan karena beliau seorang pejabat di bidang pendidikan dan kebudayaan, tapi cenderung bahwa hal itu dilahirkannya secara alamiah sebagai seorang pendidik, sebagai seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh anak didiknya. 

Itulah Pak Slamet yang saya kenal; seorang “kiai” yang “pejabat”, seorang motivator yang selalu memberikan dorongan positif bagi Masisir untuk terus semangat. Semangat kuliah, semangat, menulis dan berkarya, semangat meraih cita-cita. 

Akhirnya saya pun setuju dengan kesan yang dilontarkan seorang sahabat tadi malam, sebelum acara perpisahan itu dimulai, “Din, kepulangan Pak Slamet (ke Indonesia), seperti kehilangan tulang rusuk.”  

Kepada Sang Motivator, akhirnya saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa.

Cairo, 28 Oktober 2008  







Read more!

posted by Falahuddin Qudsi @ 6:47 AM, ,


© 2006 =ruangimaji= | Blogger Templates by GeckoandFly | Design by BOHEMIAN AHMAD ZUHRI
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
Learn how to Make Money Online at GeckoandFly | First Aid and Health Information at Medical Health