Refleksi
Tuesday, October 28, 2008
Kepada Sang Motivator; Terima Kasih
“Kepulangan Pak Slamet (ke Indonesia), seperti kehilangan tulang rusuk”
TADI malam saya ikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh PCI-NU Mesir (27/10/08). Acara itu dilaksanakan khusus untuk melepas kepulangan Bapak Slamet Sholeh, M.Ed. ke Indonesia karena masa jabatan beliau sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Cairo sudah berakhir.
Ada rasa haru yang menyelinap di bilik-bilik batin saya, saat Pak Slamet –demikian saya biasa menyapa— menguatarakan kalimatul wada’nya di depan mahasiswa Indonesia yang hadir malam itu. Ada rasa bangga yang diam-diam bertutur kepada hati kecil saya, “Falah, kamu beruntung bisa mengenal Pak Slamet”. Sebab dengan mengenalnya, bisa menambah kekuatan saya dalam melakukan aktifitas kemahasiswaan. Paling nggak itu hikmah yang bisa dipetik dari perkenalan saya dengan beliau.
Hampir setiap bulan selama kurang lebih satu tahun itu saya selalu berkunjung ke KBRI, di bilangan Tahrir yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sungai Nil, untuk meloper buletin Suara PPMI. Maka, perjumpaan saya dengan beliau pun cukup intens. Apalagi karena keterbukaan beliau, terkadang kalau ada suatu hal mendesak pun, saya tidak segan-segan menghubunginya via seluler.
Sepulangnya dari kantor beliau, saya tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ternyata pertemuan itu cukup memompa semangat saya dalam beraktivitas, menulis, dan belajar. Apalagi setelah beliau memberikan buku “Cairo-Cairo” di akhir Juni lalu, dalam beberapa jam saja buku mungil itu saya baca dan pengaruhnya luar biasa; rupanya perjumpaan saya dengan Pak Slamet sungguh menjadi motivasi dalam segala hal, terutama dalam tulis-menulis yang juga menjadi bagian dari hobi saya.
Kekaguman saya itu rupanya semakin menjadi setelah saya baca buku “Cairo-Cairo” yang diberikannya. Dengan bahasa yang lincah, mengalir, lugas, jelas, dan padat isi, buku yang berisi refleksi itu bagi saya mengandung daya magis yang cukup dahsyat. Beliau bercerita tentang banyak hal yang sederhana, tapi mengandung makna dan nilai yang luar biasa. Lebih menarik lagi ketika persoalan yang ditemukannya itu selalu dibumbui dengan nilai-nilai keislamana. Contohnya, dalam “Perjalanan Panjang” ketika Pak Slamet beserta keluarga melakukan rekreasi ke berbagai tempat di sebelah Barat dan Timur kota Mesir; saat tibanya di Wadi Siwa, beliau sempat berfikir tentang bagaimana awalnya Islam masuk dan tersebar di wilayah ini.
Keberhasilannya melakukan tafakkur rupanya tidak hanya soal bagaimana gurun yang gersang itu bisa menyemburkan mataair yang tiada hentinya mengalir, tapi lebih dari itu beliau cerdas mengkorelasikan rahasia alam tersebut dengan Islam dan kisah-kisah teladan para sahabat Nabi (Slamet: 65). Sehingga tidak salah kiranya, bila saya kemukakan bahwa Pak Slamet adalah seorang diplomat yang cerdas sosial, emosional, dan spiritual sekaligus. Beliau tidak terjebak dalam formalitas sang pejabat yang terlalu birokratis; beliau selalu tampil apa-adanya dan terbuka.
Itulah Pak Slamet yang saya kenal; seorang “kiai” yang “pejabat”, seorang motivator yang selalu memberikan dorongan positif bagi Masisir untuk terus semangat. Semangat kuliah, semangat, menulis dan berkarya, semangat meraih cita-cita.
Kepada Sang Motivator, akhirnya saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa.
Read more!
posted by Falahuddin Qudsi @ 6:47 AM,
,
